Potret Keluarga Menurut Al-Qur’an: Belajar dari Kisah Ibrahim dan Hajar

Kemarin keluarga kecil kami (baca posting sebelumnya) mengadakan kajian parenting pertama, rencananya kajian bulanan ini akan rutin diadakan setiap bulan dengan tema yang berbeda-beda.

Image

Hari ini kami diajak berdiskusi panjang lebar dan mendalam oleh seorang istri dan ibu yang mengagumkan menurut saya pribadi, saat berekanalan pertama sangat jelas kesan tegas namun bijak di sosok narasumber kami pagi ini. Profil Ustadzah Poppy ini nanti saya tuliskan di bawah posting ini.

Apa yang kami bahas? Awalnya tema yang ingin dibahas adalah potret keluarga menurut Al-Qur’an, namun menurut Ustadzah Poppy tema itu akan sangat panjang dan mendalam sekali, tidak bisa dikupas dalam satu pertemuan. Walhasil, kami mencoba membahas tentang potret keluarga dalam kisah Keluarga Nabi Ibrahim dan Siti Hajar.

Awalnya saya berpikir ceritanya akan mirip dengan kisah air zam-zam dan kesediaannya Ismail saat akan disembelih oleh ayahnya, namun seusai membahas, saya mendapat banyak sekali cerita dibalik kisah mengapa hanya dua keluarga yang disbeut di Al-Qur’an yaitu keluarga Ibrahim dan Lukman.

Sebelum mendalam membahas ibrah kisah Nabi Ibrahim dan Hajar, Ustadzah Poppy mengajak kami untuk lebih cerdas dalam menimba serta memfilter ilmu, saya jadi mengevaluasi diri kembali betapa beberapa kali saya terjebak apad amenyebarkan info yang menurut saya bermanfaat tanpa mengkonfirmasi lebih jelas dahulu asal muasal kebenarannya, hiksss semoga besok lagi ga terlalu impulsive sebar-sebar berita…😀

Pertanyaan pertama yang juga cukup menggelitik adalah saat beliau bertanya tentang betapa Kan’an putra Nabi Nuh saat akan diselamatkan ayahnya dari air bah, menolak dengan angkuh sementara Ismail yang jangankan diselamatkan, beliau justru ditanya oleh ayahnya maukah disembelih, dijawab dengan sangat bijaksana jika itu perintah Allah maka lakukanlah ayah. Keduanya adalah putra seorang rasul, laki-laki pilihan Allah, namun mengapa sikap dan akhlak keduanya berbeda jauh? Maka kemungkinan yang paling mungkin adalah karena perbedaan pengasuhan dari sang ibu.

Kami diajak untuk kembali mengingat siapa Hajar itu? Ada beberapa versi tentang siapa Hajar, namun yang kami bahas kemarin berdasarkan Ibnu Katsir yang menyebutkan bahwa Hajar adalah anak Fir’aun yang diberikan kepada Sarah untuk dijadikan budak demi menghinakan dirinya karena pernah berani menggoda Sarah dan didoakan menjadi lumpuh, maka lumpuhlah ia hingga Sarah dianggap seperti Nabi perempuan.

Dari kisah yang disampaikan oleh Ibnu Katsir tidak pernah disampaikan bahwa Hajar mengeluh atau berburuk sikap kepada Sarah dan Ibrahim, padahal jika dibayangkan bagaimana sikap seorang putri raja yang kemudian disuruh menjadi budak pasti tidak rela atau menunjukkan sikap tidak suka, ini menunjukkan betapa baik akhlak Hajar. Pun demikian, hingga Sarah yang meminta Hajar menjadi istri bagi suaminya pasti didasarkan atas kebaikan akhlak Hajar.

Bahkan ketika Hajar mengandung dan Sarah cemburu, Hajar pun tidak banyak bertanya saat diajak oleh Ibrahim menuju ke padang pasir tandus yang sekarang kita kenal dengan nama Mekkah. Dari penggalan ini, Ustadzah Poppy banyak mengingatkan kami betapa ketika kita ingin dimengerti seperti Aisyah yang selalu dibantu Rasulullah mengerjakan pekerjaan rumah dan didengarkan saat curhat tentang apapun, maka kita pun harus mengerti bahwa terkadang suami pun punya bahasa sendiri dalam diamnya, di mana saat itu yang perlu kita lakukan sebagai istri adalah menunggu hingga ia bicara. Sama seperti Hajar yang tidak banyak bertanya saat diajak Ibrahim karena tahu bahwa itu adalah perintah Allah.

Demikian juga setibanya di Mekkah, Ibrahim memberikan sekantung kurma dan 1 buah wadah air. Melihat hal tersebut Hajar langsung bertanya :”Apakah ini yang diperintahkan oleh Allah?” Ibrahim menjawab Iya dan Hajar menjawab “Jika itu perintah Allah, maka pergilah dan aku ikhlas di sini bersama anak kita”. Dialog itu begitu singkat namun bagi saya sangat daleeemmmm, kayaknya saya terlalu sering memiliki dzon yang buruk, tanpa bertanya sebelumnya mungkin ini yang diinginkan oleh Allah untuk saya pelajari agar bisa menjadi hamba-Nya yang lebih baik.

Karena adzan dhuhur sudah berkumandang, kajian pun diakhiri… Kami diberi PR untuk terapi dzon selama seminggu dan ceritakan apa yang kemudian terjadi, maksud dari terapi dzon ini adalah setiap kali pikiran kita dihinggapi oleh dzon yang buruk segera cari lebih banyak kemungkinan dzon yang baik.

Terima kasih untuk celetukan teman-teman yang makin menambah ilmu saya juga asupan makanan dari Mbak Ratih, Mbak Andin, Mbak Irda, dan lain-lain. Sampai ketemu bulan depan yaahhhhh..😀

Profil Ustdzah Poppy:

Poppy Yuditya, adalah seorang pembelajar. Dia suka buku, diskusi,  menonton film dan berbagi ilmu & pengalaman. Dia mencintai perannya sebagai ibu rumah tangga, trainer, konsultan, penulis dan penuntut ilmu kehidupan. Poppy Yuditya Candralita Abidin, begitu nama lengkapnya, lahir tahun 1977 di Balikpapan, setelah lulus dari SMA 78 Jakarta meneruskan ke Jurusan Teknik Mesin/Industri  di FTUI. Setelah bekerja di perusahaan consumer good, kemudian pindah ke perusahaan IT, ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengambil MBA International Business di UNISA – Australia.

Selama kuliah di Australia, Ibu dua anak ini, juga bekerja dan terlibat aktif menangani komunitas pengajian masyarakat muslim Indonesia.

Setelah menikah, ia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga dan merintis beberapa usaha rumahan.

Sejak 2009, Poppy mulai rutin menjadi narasumber di beberapa sesi training dan sharing session: di sekolah, kampus, kantor dan komunitas lainnya. Topik yang kerap disampaikan adalah peran muslimah, parenting, keluarga, remaja, maturity studies, life skills, Islamic customer service dan beberapa topik manajemen dan kepemimpinan.

One thought on “Potret Keluarga Menurut Al-Qur’an: Belajar dari Kisah Ibrahim dan Hajar

  1. Pingback: Sekali Lagi tentang Manajemen Keuangan Keluarga | Me, The World, and The Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s