Mengenal Lebih Dekat Laporan Keuangan bagi UKM (Part 4 of 4)

Pada post ini kita akan membahas laporan keuangan terakhir yang ada di rangkaian laporan keuangan sederhana yang ada. Apakah itu?? Laporan ini disebut catatan laporan keuangan. Walaupun hanya berupa “catatan”, namun laporan ini adalah laporan yang tidak terpisahkan dari keseluruhan laporan keuangan yang ada. Melengkapi post-post sebelumnya di sini, sekarang kita akan lihat lebih jelas apa yang dimaksud catatan atas laporan keuangan ini.

Image

Nah, dari cuplikan Catatan atas Laporan Keuangan di atas, teman -teman sekalian pasti sudah sangat paham, fungsi apa yang dimiliki oleh jenis laporan keuangan terakhir ini. Yak, betuuul.. Fungsinya adalah sebagai pencerita maksud setiap istilah yang digunakan, asal muasal angka yang disajikan, penjelasana tambahan atas sebuah angka yang mungkin tampak fantastis, semua yang tidak bisa ditulis hanya dengan ketikan angka akan tampak jelas di bagian ini.

Tentunya saking jelasnya yang disampaikan laporan ini, lebih sering justru dari segi ketebalan ia akan mengalahkan 3 laporan lainnya yang memang diciptakan versi ringkas. 1 catatan bisa dijadikan referensi atas beberapa penjelasan untuk beberapa akun dan jenis angka. Misalnya daftar aset beserta rincian penyusutannya akan dijadikan referensi atas angka aset tetap, beban penyusutan, dan akumulasi penyusutan yang ada.

Image

Sebagai bonus atas pembahasan 4 jenis laporan keuangan yang ada, kita akan bahas sedikit tentang rasio keuangan dasar yang penting untuk diketahui. Apa sajakah itu??

1. Gross margin ratio: Ini adalah salah satu ukuran profitabilitas yang cukup ampuh untuk mengetahui daya saing usaha kita dibanding yang lain, dari mana mendapatkannya angka tersebut? Laba kotor dibagi penjualan bersih, nah lho, laba kotor itu dapet dari mana ya? Laba kotor adalah penjualan bersih dikurangi total HPP. Nah, penjualan bersih itu sendiri berasal dari total penjualan dikurangi retur dan diskon yang ada.

2. Net margin ratio: Ini adalah salah satu ukuran profitabilitas yang lebih akurat untuk tahu sdh efisien kah usaha kita beroperasi, karena jangan-jangan dari segi laba kotor sudah oke tapi karena beban umum yang ada tidak efisien kita jadi kurang bersaing saat membandingkan net margin usaha kita dengan usaha lain di bidang yang sama, dari mana mendapatkannya angka tersebut? Laba bersih dibagi penjualan bersih, nah lho, laba bersih itu dapet dari mana ya? Laba bersih adalah laba kotor dikurangi beban umum, operasional, dan penjualan.

3. Perputaran persediaan: untuk perusahaan dagang, salah satu yang harus diperhatikan adalah rasio ini. Bagaimana cara menghitungnya? Perputaran persediaan=HPP periode tersebut dibagi persediaan rata-rata. Mudah kan? Nah persediaan rata-rata didapat dari angka persediaan di akhir periode dikurangi dengan angka persediaan di awal periode kemudian dibagi 2.

Semua rasio tersebut tentu saja baru bisa dihitung jika kita memiliki laporan keuangan.. Dan yang lebih penting lagi, rasio tersebut hanya bisa dipakai jika kita gunakan untuk menganalisis rasio usaha kita di periode sebelumnya atau membandingkan dengan usaha lain yang serupa dengan usaha kita…

Yuk, lebih semangat menyusun laporan keuangan….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s