Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anak: Keseimbangan Peran Antara Ayah dan Ibu (Part 2 of 2)

Image

Dari artikel pertama yang tertulis di sini, selain mendebatkan tentang peran wanita sebagai ibu rumah tangga dll, muncul tema yang justru menjadi penyeimbang peran seorang ibu yang terkesan “dewa” sekali pada proses pendidikan sang anak.

Di salah satu grup WA yang saya ikuti artikel tersebut membawa kami ke diskusi yang lebih seru yaitu peran ayah dalam pengasuhan anak. Pada kajian rutin tiap Sabtu di masjid komplek kami beberapa waktu lalu Sang Ustadz menyatakan bahwa peran ayah justru lebih besar dalam porsi pendidikan anak, oleh karenanya ketika terjadi perceraian asalkan anak sudah tidak tergantung pada ibunya (sudah disapih) hadonah atas anak justru diutamakan pada sang ayah, walaupun ada hadits lain yang menyatakan sebaliknya. Ada salah satu post yang juga tak kalah menarik: “Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”
Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya. Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.
Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)
Lihatlah ayah, subhanallah…

Ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan
generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas.
Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak.
Lebih sering. 14 banding 2!
Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi.
Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak- anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias marah. Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara.
Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan
pembicaraan ayah.” Saking rutinitas pembicaraannya yang hanya basa basi dan itu-itu saja.
Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus menyampaikan pesannya,
kisahnya dan dialognya.
Ayah, kembali ke al-Qur’an..
Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya. Sebuah
nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya.
Dengan kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu
dengan anaknya.
Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: ayah, harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari
bersama buah hatinya.
Dan…
Jangan sampai menjadi seorang ayah bisu….

Di tarbiyatul aulad juga ditulis “Jagalah anakmu di 2 waktu (pagi dan malam). Sesibuk ayah, harus memberi quality time di 2 waktu tsb (Irwan Rinaldy)

Peran Ayah lebih berat lagi, dan sekalipun waktu bersama anak lebih banyak dengan Ibu mereka, namun ternyata pendidikan aslinya dipertanggungjawabkan kepada para Ayah, peran Ibu adalah nurturing, penanaman nilai ada di Ayah, jauh lebih efektif di Ayah, anak melihat role model pada Ayah, ciptakan quality time dengan anak.

Ada kisah seorang profesor Jepang yang super sibuk tapi bisa mendidik anak perempuannya dengan sangat baik, dia menciptakan tantangan tiap paginya sebelum si Ayah berangkat bekerja, hal baik apa yang mau dilakukan si anak hari ini? lalu dievaluasi sebelum makan malam, dengan diberi pertanyaan jika hasilnya dinilai bagus maka si Ayah yang akan memasak makan malam khusus untuk si anak.

Ada satu artikel lagi yang dishare oleh salah satu teman saya di WA yang tak kalah menarik di sini, yaitu tentang kewajiban istri mengurus rumah tangga. Dengan  berbagai pengetahuan ini, saya jadi makin yakin atas justifikasi beberapa kelebihan yang diperoleh pria dibanding wanita pada ketetapan Allah seperti hak waris, hak menjadi saksi, dll. Karena dengan berbagai tanggung jawab yang dimilikinya seharusnya mereka lebih rasional saat menjadi saksi dan mereka diberi kelebihan hak waris karena harus menanggung biaya hidup keluarga serta tanggung jawab lainnya. Wallahu a’lam bish showab.

Sedikit kutipan dari artikel tentang kewajiban istri dalam kehidupan rumah tangga:

Akad nikah bukan akad kerjasama antara suami dan istri untuk menanggung bersama rumah tangga itu. Akad nikah hanya membebani suami saja, dan tidak ada beban apa pun di pihak istri. Dari situlah datangnya kepemimpinan suami atas istri, sebagaimana sudah ditetapkan Allah SWT di dalam Al-Quran.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa’ : 34)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s