Desain Remunerasi untuk Skala Bisnis UKM

Image

Ketika bisnis UKM mulai berkembang dan membesar, yang ditandai dengan sudah mampu mengangkat seorang atau beberapa karyawan, maka Salah satu hal yang patut mendapat perhatian penting  dalam mengelola karyawan adalah penentuan remunerasi yang tepat. Penentuan remunerasi ini penting karena ini berkaitan dengan kelangsungan usaha itu sendiri.

Keuangan usaha yang belum stabil mmembuat owner perlu memutar otak bagaimana mendesain remunerasi yang efektif bagi organisasi. Pelaku UKM harus bisa menghitung “kemampuan bayar” (capacity to pay) usahanya untuk dianggarkan dengan diseimbangkan pada remunerasi rata-rata di bursa kerja atau UMR.

Remunerasi dapat terbagi dari pendapatan tetap (fixed income) + tidak tetap (flexible income). Compensation itu critical, kadang bukan seberapa banyak, tapi bagaimana mengolah dan mempola kompensasi dan benefit itu agar memberikan impact Bukah hanya kpd karyawan yg menerima tapi yang paling penting kepada organisasi. Compensation juga bukan sekedar kewajiban organisasi kepada karyawan, tapi bisa jadi tools organisasi dalam hal reward and punishment Karyawan. Sehingga karyawan menjadi semangat, nyaman bekerja, terarah dan kinerja secara trend meningkat. Itulah goals dari compensation.

Caranya bagaimana?  Secara sederhana ada yg disebut 3P + bonus.  Konsep “Pay for 3P+ bonus“, di mana setiap individu itu dihargai berdasarkan kompetensi yang dimilikinya posisi yang didudukinya, dan kinerja yang dihasilkan.

Misal kita berniat menggaji karyawan dengan kualifikasi S1 sebesar Rp 3,5 juta, dan SMA Rp 2,5 juta (Sebagai contoh akan akan digunakan karyawan dengan kualifikasi SMA). Maka jangan full Rp 2,5 juta dikasih semua. Kita bagi-bagi 2,5 juta tadi ke dalam 3P + bonus:

1. Pay for person, adalah pembayaran kepada seseorang karena kompetensi yang dimiliki. Untuk skala ukm maka pembayaran ini karena telah bekerja di organisasi. P1 ini senilai Rp 1 juta. Ini adalah uang minimal yg pasti didapat karyawan setiap bulannya baik dia rajin bolos, tidak perform dan memiliki attitude yang jelek. Itu adalah tanda sebagai bagian dari organisasi

2. Pay for Position, untuk bisnis besar ini berkaitan dengan pangkat, jabatan dan wewenang sesorang dalam perusahaan. Semakin tinggi level jabatan sesorang dalam organisasi maka P2 ini semakin tinggi. Untuk bisnis UKM, bisa diarahkan ke jumlah kehadiran. Misalnya saat jumlah kehadiran full, atau sedikit absen tapi dengan alasan yang rasional maka karyawan dapat Rp 500 ribu.

Kenapa kehadiran penting? Semua pola organisasi berjalan saat people ada. Karenanya kita hargai besar untuk yang disiplin. Untuk yg suka bolos dan selalu ijin dengan tidak rasional? Disinilah punishment bermain, ada pemotongan uang P2 jika ada case absen tertentu, uang yg didapat bisa jd tidak Rp 500 ribu.

3. Pay for performance. besaran gaji diberikan berdasar aspek kinerja atau hasil kerja dari karyawan Setiap kita yang bekerja. Pasti diberi target,  Ya kan. Nah karyawan kita juga diarahkan utk targetnya masing-masing. Misal mengenali detail pesanan ,membungkus semua barang dgn baik. Mengantar ke JNE tepat waktu dan sesuai prosedur. Memantau perkembangan sampainya barang dan call back pelanggan/testimoni. Saat menurut kita semua peran sudah dijalankan dengan baik, maka Rp 500 ribu setiap bulannya sudah ditangan.dalam hal ini owner perlu menerapkan sistem key performance indicators dalam menilai kinerja setiap karyawannya. Saat kinerja karyawan bermasalah, maka perlu ada punishment pengurangan P3 ini.

4. Bonus. Setiap owner tentu punya target,  misalkan debusana (toko online busana muslim) memiliki target sebulan omzet 1 Milyar. Nah, saat omzet itu tercapai maka setiap karyawan akan mendapat Rp 500 rb Kalau target tidak tercapai, maka diberi kebijakan bonus yg berkurang.

Dari pola ini terlihat bahwa, jumlah uang aman yg dipegang karyawan hny Rp 1 juta, selebihnya perlu effort, effort dan effort! Selain itu yang tidak kalah penting bagi para pelaku UKM adalah bagaimana membuat program benefit atau tunjangan seperti tunjangan pulsa, wisata bersama, olahraga rutin, voucher makan atau belanja gratis supaya karyawan lebih happy lagi.

3 P merupakan pilihan yang mungkin mesti dicermati manakala sebuah UKM hendak memberikan gaji yang fair dan kompetitif kepada segenap karyawannya dan juga menunjang pada goals dari UKM tersebut.

Ketika usaha sudah cukup mapan, maka 3P perlu dikembangkan lebih lanjut dan range remunerasi  harus memperhatikan internal and external equity (kesetaraan) di dalam organisasi dan di bursa kerja. Alangkah lebih baik dapat memberikan remunerasi yang kompetitif dibanding pesaing, hal ini akan sangat membantu perusahaan kita menjadi “employer of choice”  “(perusahaan idaman) dan tentu banyak kandidat terbaik yang tertarik untuk join.

Oleh: Asep Tri Wahyudi (FEUI 04)

www.fb.com/galericantikstore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s