Siapa Bilang Entrepreneur (Bukan) Orang Gajian?

Mendapat gaji tak terbatas sehingga dapat berkontribusi kepada masyarakat sepuasnya melalui inovasi seharusnya menjadi mimpi setiap orang yang menyebut dirinya wirausaha (Naila M Tazkiyyah)

Image

“Melek keuangan” bagi seorang pengusaha adalah sebuah harga mati. Dalam berbagai kegiatan saat berbagi bersama para pengusaha tentang keuangan, kebanyakan langsung mengelus dahi, memasang wajah muram atau berbagai ekspresi kurang positif lainnya. Mungkin di pandangan mereka, keuangan selalu identik dengan keharusan memahami debet kredit, padahal hal itu sangat jauh dari kebenaran😀

Di post ini, saya hanya ingin sedikit berbagai tentang KEWAJIBAN pengusaha menggaji dirinya sendiri, mengapa ini menjadi salah satu yang saya tekankan pada pembahasan wirausaha dan keuangan, karena banyak yang tidak sadar bahwa banyak alasan yang membuat pos gaji bagi pemilik ini seharusnya ada. Berikut percakapan yang sering terjadi antara saya dan peserta training saat membahas sesi ini.

Saya (S)     : Kira-kira siapa di sini yang sudah menggaji dirinya sendiri? (beberapa orang mengangkat tangan, biasanya hanya berkisar 2-5% dari total jumlah peserta) Wah, berarti yang tidak mengangkat tangan sudah tidak pernah berkecimpung di usahanya dong ya?

Peserta (P) : Ya tidak dong bu, kami justru masih harus bekerja keras di usaha kami makanya kami tidak perlu menggaji diri kami sendiri, lagipula ini kan bisnis kami, masa kami menggaji diri kami sendiri.

Nah, pandangan seperti inilah yang masih banyak ada di pikiran pengusaha UKM kita. Sekarang saya akan coba paparkan beberapa fakta mengapa seharusnya biaya gaji pemilik ini harus diperhitungkan di usaha masing-masing.

  1. Apakah adil jika ada orang yang bekerja, namun dia tidak memperoleh imbal jasa atas pekerjaan yang dilakukannya?
  2. Fakta no. 1 biasanya akan dibantah dengan pernyataan “Iya sih, perlu digaji, tapi namanya juga baru usaha kecil, masa harus bayar gaji pemilik?” Gaji ini harus diperhitungkan namun tidak wajib dibayarkan kepada pemilik apalagi dihabiskan dananya untuk kepentingan pribadi yang tidak mendesak. Saat saya baru membuka usaha saya, saya tetap mengalokasikan gaji yang seharusnya saya terima walaupun tidak ada kas yang saya terima karena saya asumsikan dana tersebut saya masukkan lagi ke usaha sebagai tambahan kontribusi modal saya
  3. Jika masih belum yakin dengan 2 fakta di atas, apakah jika Bapak/Ibu bekerja di tempat lain Bapak/Ibu bersedia bekerja tanpa dibayar? Saya yakin 100% akan menjawab tidak kecuali untuk pekerjaan yang sifatnya sosial atau kepentingan komunitas tertentu yang memang nirlaba. Jadi, sebagai pengusaha yang sangat paham makna untung dan rugi, tentunya kita paham jika di tempat lain untuk bekerja 8 jam sehari saja kita punya patokan tertentu berapa jumlah gaji yang kita inginkan apalagi untuk bekerja 24 jam demi usaha kita, selain pembagian laba di akhir periode tentunya tetap harus ada gaji yang diterima
  4. Fakta pamungkas jika 1-3 masih belum cukup meyakinkan adalah jika Bapak/Ibu tidak bisa bekerja untuk usaha yang Bapak/Ibu miliki apakah ada orang yang bersedia mengerjakan hal tersebut tanpa dibayar? Biasanya pertanyaan ini juga akan dijawab 100% dengan jawaban tidak. Jika demikian, mengapa kita juga tidak mengalokasikan dana gaji bagi pemilik yang masih mengerjakan operasional di bisnisnya? Karena saat hal ini diabaikan kita kan merasa nyaman dengan laba yang cukup besar tanpa alokasi gaji pemilik, padahal itu tidak mencerminkan kondisi usaha Anda yang seharusnya.

Nah, pertanyaan lanjutan setelah semua pengusaha yakin bahwa pemilik yang bekerja untuk usahanya wajib digaji adalah “Berapa yang harus saya alokasikan untuk gaji saya?”. Tidak ada patokan yang baku untuk itu semua namun acuan terbaik yang sebaiknya dijadikan panduan adalah berapa gaji yang diminta oleh orang (sesuai tarif pasar) untuk mau mengerjakan pekerjaan di usaha sebagaimana yang Anda lakukan sebagai pemilik. Mudahnya, jika di usaha yang Anda kerjakan adalah mengkoordinir stok barang, terkadang harus belanja bahan baku atau persediaan barang dagang, melakukan review atas pencatatan keuangan staf Anda, membuat sistem untuk reseller dan berbagai pekerjaan lainnya. Maka, ketika Anda membuka lowongan dan ada staf/manajer yang mampu melakukan semua hal tersebut sesuai standar Anda berapa gaji yang dia minta itulah seharusnya gaji yang Anda terima.

Maka, selama Anda masih berkecimpung secara operasional di bisnis Anda jangan hanya mengandalkan pembagian laba di akhir tahun apalagi mengambil sedikit demi sedikit dana usaha tanpa pemisahan yang jelas antara dana usaha dan pribadi, alokasikan gaji Anda sebagai pemilik dan juga seluruh anggota keluarga yang terlibat. Setelah hal itu dilakukan, laba/rugi yang nampak akan lebih objektif dan adil.

Selamat menjadi Orang Gajian😀 Jika bosan menjadi orang gajian, siapkan sistem bisnis Anda sehingga akan ada orang gajian lain yang menggantikan Anda, dan Anda tinggal menikmati investasi waktu, pikiran dan tenaga Anda selama ini.

2 thoughts on “Siapa Bilang Entrepreneur (Bukan) Orang Gajian?

  1. Pingback: Back to Basic,Memahami Konsep Pembukuan dan Laporan Keuangan Sederhana bagi UKM | Me, The World, and The Stories

  2. Pingback: Back to Basic, Memahami Konsep Pembukuan dan Laporan Keuangan Sederhana bagi UKM | IN CONSULTING

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s