Pendidikan untuk Manusia

Sebagai koordinator bidang kurikulum di TPA masjid dekat rumah saya, walaupun hanya pengurus sukarela, saya sangat tergelitik saat ada 1 orang Bapak wali santri mengeluh kepada suami saya seusai shalat jama’ah di masjid. “Anak saya tidak mau lagi diajak ke masjid, bahkan untuk shalat jama’ah sekalipun. Katanya pernah ditegur keras oleh salah satu pengajarnya” Rasanya seperti tersedak. Di awal semester, saya sdh memberikan serangkaian pelatihan untuk para guru dan menekankan bahwa budaya di TPA ini adalah CINTA (Ceria, Itqan, Nuansa Islam, Telaten dan Akhlaq Qur’ani).

TPA

Suami saya menenangkan, justru ini kesempatan untuk belajar lagi dan terus memperbaiki kualitas pengajaran di TPA. Malam itu juga, saya membungkus sedikit hadiah berupa buku ensiklopedi  anak muslim untuk santri kami tersebut. Selepas Isya’ saya diantar suami saya silaturahim ke rumah santri tersebut, alhamdulillah.. Setelah ngobrol santai dan meminta maaf kepada wali santri, keesokan harinya saat festival dan penerimaan laporan santri, santri tersebut sudah datang lagi ke masjid, bermain ceria dengan temannya, ibunya pun datang untuk melihat pentas anak muslim bahkan berpartisipasi pula sebagai peserta bazaar. Saat itu hanya ada dua kata, Alhamdulillah daaan Lega..

Hal itu membuat dua minggu terakhir ini saya mencoba kembali belajar bagaimana seharusnya mendidik “manusia”. Belajar dari mana? Yang paling affordable untuk saya adalah buku dan internet. Untuk buku, yang saya baca adalah serial buku-buku Bapak Munif yang terdiri dari Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, Orantuanya Manusia, dan Kelasnya Manusia.

Apa saja yang didapat? Banyaaaak sekali, saya seperti disadarkan ternyata selama ini kelas yang kami sediakan untuk para santri belum memenuhi kriteria Kelasnya Manusia, pun demikian dengan guru dan sekolahnya. Untuk orang tuanya, insya Allah kami akan berusaha menyediakan sesi khusus bagi para wali santri untuk belajar dan terus belajar menjadi orang tua manusia yang “sebenarnya”.

Untuk satu semester ke depan, saya berupaya menciptakan suasana sekolahnya manusia dan kelasnya manusia. Langkah pertama adalah mewujudkan sekat-sekat kelas di TPA, memberikan pelatihan pada guru untuk bisa ber-kreatif ria menghias kelas dengan aneka display, daan tentu saja membudayakan kembali profesionalisme seorang guru. Menurut Pak Munif seorang guru profesional memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Bersedia untuk selalu belajar
  • Secara teratur membuat rencana pembelajaran sebelum mengajar
  • Bersedia diobservasi
  • Selalu tertantang untuk meningkatkan kreatifitas
  • Punya karakter yang baik

Target saya, TPA ini juga memiliki jenjang kompetensi guru seperti yang disarankan Pak Munif di bukunya yaitu:

  1. Probation Period, masa percobaan untuk para guru. Di TPA Al-Ikhwan ini, masa percobaan adalah selama 1 semester periode Januari – Juni 2014
  2. Medium Teacher, guru yang punya moto just tell
  3. Good Teacher, guru yang punya moto explain
  4. Excellent Teacher, guru yang moto demonstrate
  5. Great Teacher, guru yang punya moto inspire

Periode Juli hingga Desember 2014, kami akan berupaya memiliki KPI yang jelas untuk jenjang 2-5. Guru type 2 tidak akan diperpanjang masa kontrak kerjanya, guru type 3 diberi kesempatan 3 bulan untuk menjadi excellent teacher. Sementara untuk guru type 5 akan diberikan insentif tersendiri.

Bismillah, semua ini baru rencana kami, mudahkan ikhtiar kami dan lancarkan prosesnya untuk mewujudkan atmosfer pendidikan bagi manusia yang sesungguhnya di laboratorium kecil kami di TPA Al Ikhwan ini. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s