Finnish-Indonesian Symposium on Education and The Role of Teachers: (Ringkasan Live Tweet)

Tiga aspek yang perlu diperhatikan ttg keberhasilan Finlandia: 1. Finlandia tidak selalu bagus.  40 th lampau, Finlandia tertinggal. 2. Finlandia tak pernah ingin menjadi terbaik di dunia. Yg kami inginkan adlh membangun sekolah yg baik utk SEMUA anak2 kami. 3. Finland sukses di brbgai parameter sprti economic competitiveness, equity index, happiness index,Finlandia adalah salah satu negara yg berhasil memberantas korupsi. Finlandia selalu mengutamakan upaya pemberdayaan wanita (no 2 di dunia). Indeks Kebahagiaan warga Finlandia no. 2 di dunia.

Tulisan ini saya rangkum dari live tweet Pak Iwan Pranoto dan BincangEdukasi di sini. Sebagai orang tua, saya berharap simposium yang telah dilaksanakan antara Diknas Finnish dan Indonesia Oktober lalu bisa mentransformasi sistem pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Selamat membaca….

View image on Twitter

Sesi 1 Pasi Sahlberg (Pakar Pendidikan Finlandia)

Pasi Sahlberg menunjukkan grafik korelasi antara kesenjangan pendapatan masy dan pencapaian siswa. Tkt kesenjangan pendapatan masy berkorelasi negatif dgn pencapaian siswa. Semakin rendah income inequality, semakin tinggi nilai student learning (PISA). Posisi Indonesia: Kesenjangan sgt tinggi, pencapaian siswa buruk.

Sahlberg mengungkapkan 3 cara meningkatkan kualitas pendidikan. Yg pertama, fokus sistematis pd pengurangan kesenjangan. Setiap anak, dari keluarga kaya atau tdk, dr keluarga terdidik atau tdk, Finlandia menyediakan pendidikan yg bermutu. Negara yg berfokus pd kesetaraan lebih berhasil mengurangi pengaruh latar blkg anak thdp performa pembelajarannya. Finlandia bergerak dr low equity low quality menjadi highest equity highest quality. Kesetaraan sgt berpengaruh. Praktik kedua yg dilakukan utk perbaiki pddkn: “Less is better: Teaching hours”. Wkt mengajar di Finlandia lebih sedikit dibanding negara lain, sktr 2 jam lebih sedikit drpd di Amerika. Perbedaan lama persekolahan siswa Finlandia dan AS (umur 7 smp 14) kira2 selama 2 tahun. Artinya guru pny wkt lbh bnyk utk lakukan hal lain selain mengajar dan siswa pny wkt lbh bnyk selain di kelas. Di Finlandia, tidak ada PR, tidak ada Ujian Nasional, juga tdk ada pelajaran tambahan di luar sekolah. Poin ketiga perbaikan pendidikan kami: peningkatan profesionalisme guru. Keponakan Sahlberg adalah seorang yang cerdas, suka anak2, melamar jd guru tp ditolak krn ia tdk bs jelaskan MENGAPA ia lebih pilih jd guru. Dia gagal jwb, “Mengapa kamu ingin jd guu SD, bukan dokter?” Guru2 di Finlandia selama 30 thn terakhir dikembangkan memiliki Human Capital, Social Capital dan Decisional Capital. Kami memberikan guru2 di Finlandia 3 hal yg sgt penting ini: Freedom, Autonomy, Trust. Pelajaran penting lain: ajari siswa, kolaborasi sebelum kompetisi! Standardized test hanya mendorong kompetisi. The children must play…:)

View image on Twitter

Sesi 2: Prof. Eero Ropo (Sejarah & konsep pendidikan guru di Finlandia)

Guru Finlandia diharap mendidik anak ttg nilai budaya, toleransi sesama, demokrasi, kesetaraan & partisipasi dlm masyarakat. Prof. Ropo: Our curriculum isn’t designed to be teacher-proof. Guru Finlandia diharuskan menghormati & menghargai keunikan siswa, kemampuan, bakat dan minat yg beragam. Kurikulum Finlandia terbuka terhadap kebutuhan dan nilai lokal, serta terbuka terhadap interpretasi guru. Pendidikan guru di Finlandia tidak berbasis standar [mis: daftar kompetensi yg harus dipelajari]. Konten & program pendidikan guru di Finlandia ditentukan Universitas sendiri, tp pemerintah memberikan rekomendasi. Guru Finlandia diharap jd profesional yg otonom & diperbolehkan ambil keputusan profesional di sekolah. Di Finlandia guru lebih fokus pada mendidik siswa ke tujuan belajar ketimbang memaksimumkan hasil ujiannya. Mutu sistem pendidikan tidak mungkin melebihi mutu gurunya. [mksdnya: mutu pendidikan tergantung mutu guru.]

View image on Twitter

Sesi 3: Jaana Palojarvi, Direktur Hubungan Internasional, Kementerian Pendidikan, Sains dan Budaya di Finlandia

Pendidikan sgt dihargai di Finlandia dan biasanya kebijakan pddkn mendapat dukungan konsensus politik scr luas. Finlandia brfokus sdiakan ksmptn setara bg seluruh anak dr brbagai latar daerah, gender, sosio-ekonomi. Keyakinan & kepercayaan sgt penting dlm pendidikan. Kami berfokus pd learning, bukan steering, maksudnya keyakinan & kepercayaan thd pemerintah lokal & sekolah2 yg diberi peran besar. Kebijakan pddkn hrs mnjamin semua org dapat ksmptn setara thd budaya, pddkn brmutu & hak penuh sbg warga negara. Ortu Finlandia memilihkan sekolah anaknya berdasar kedekatan dari rumah. Negara menjamin bhw semua sekolah itu baik. Tdk ada ujian nasional thdp hasil belajar, tdk ada pemeringkatan sekolah dan tdk ada sistem inspeksi. Evaluasi [bukan testing] thd hasil belajar dilakukan utk menyediakan informasi bg sekolah & siswa berkembang. Sendi pendidikan Finlandia: No dead ends. Artinya, kesempatan memperoleh pendidikan setiap warga selalu terbuka.

View image on Twitter

Sisdik Finlandia menunjang lifelong learning. Tidak ada dead ends / jalan buntu

Hasil tes di Finlandia TIDAK PERNAH dipublikasikan, tetapi untuk umpanbalik bg perbaikan layanan pendidikan. Kami tidak ingin sekolah berkompetisi. Kami ingin sekolah bs mmprbaiki dirinya sendiri dgn dukungan dr kami. Pendidikan di Finlandia tidak boleh merangking siswanya. Kompetisi haruslah kompetisi dengan diri kita sendiri. Mantan presiden Finland ditanya rahasia pddkn yg baik dan ia menjawab, “Ada 3, yaitu: guru, guru dan guru.” Anak2 Finlandia ini belajar sesuai dengan style msg2. Sekolah dan kelas direkacipta agar anak dpt belajar seoptimal mungkin.

Sesi 4: Prof. Muchlas Samani, Rektor Universitas Negeri Surabaya, tentang guru di Indonesia.

Rasio perbandingan guru:siswa di Indonesia scr nasional sudah baik, tp distribusinya tidak merata. Misalnya di Yahukimo, ada 1 guru yg mengajar 91 siswa. Guru-guru lebih banyak mau di kota. Mutu guru-guru kita, bila dinilai dr Uji Kompetensi, masih sangat rendah. Sertifikasi guru seharusnya mendorong profesionalisme. Tp penelitian Bank Dunia tunjukkan tdk ada perbedaan. Jumlah peminat & lulusan pendidikan guru sudah meningkat jauh, tp susah dorong mereka ke daerah terpencil.

Materi lengkap dari Pasi Sahlberg bisa didownload di sini.Jakarta-Talk-2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s