Workshop “Menanamkan Nilai Islam kpd Anak dg Kasih Sayang”_Summary (1of 2)

Rasulullah SAW bersabda ” Seorang pria adl pengasuh bagi keluarganya dan bertanggung jawab atas asuhannya, sedangkan seorang wanita adl pengasuh bagi rumah tangga suaminya dan bertanggung jawab atas asuhannya.(HR Bukhari Muslim)

Seperti biasa, setiap kali selesai mengikuti pelatihan atau workshop yang inspiring saya rasanya “terbakar” dan harus mencoba semua tips yang adaa.. Kali ini pun begitu.. Alhamdulillah, tadi pagi kegiatan di TPA Al-Ikhwan berupa pertemuan wali santri dan Workshop atau Talkshow Parenting Islami bertema “Menanamkan Nilai Islam kpd Anak dg Kasih Sayang” berlangsung lancar dan sukses membuat para org tua maupun calon org tua yang hadir mencatat dengan khusyuk dan merenungkan kembali gaya pengasuhannya kepada anak-anak (setidaknya itu yang saya amati sebagai asisten sorot sekaligus notulis)😀

Karena anak-anak saya tinggal dulu di rumah mengingat selain hrs presentasi di hadapan wali santri saya jg harus merangkap admin sana sini jadinyaaa setelah workshop selesaiii bawaannya pengen larii ke rumah terus meluk kaka dan adek, kyknya msh byk bgt dosa bunda kpd kalian nak… hiks hiks.. Nah, sesuai request bbrp teman yg tidak bs hadir ke masjid Al-Ikhwan tadi pagi, semoga summary materi workshop ini bs bermanfaat utk menjadikan kita org tua yang lbh baik dan terus memperbaiki diri.. Amiiin.. Pastinya summary ini jauh dari sempurna dibanding penjelasan Ust Bendri yang sgt “happening” ya, tapi insya Allah semaksimal mungkin yg bs saya smpaikan saya tulis di sini.. Selamat membaca..

Yakin deh pasti semua orang tua berharap memiliki anak yang berbakti, menjadi penyejuk mata dan jiwa orang tuanya, bermanfaat bagi bangsa dll (biasanya ini byk kiita dengar saat mengucapkan selamat atas kelahiran dan di hari lahir anak kecil) Namun memang tertulis di dalam Alqur’an sebagai berikut:

Image

Daaan, tentu saja hal tersebut tdk bisa instan. Apalagi hanya bs terwujud dari do’a tanpa action🙂 seperti pepatah Arab berikut ini “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai”

Nah, kmdn apakah yang kita tuai “hanya” berupa mendapat anak sholeh di dunia, alhamdulillah tidak, dijanjikan pula oleh Allah SWT

Blsn Ortu Hebat

Ya Allah, golongkan kami sebagai salah satu dari golongan yang Kau angkat derajatnya di surga-Mu. Jadi apa yang harus kita lakukan supaya bs jadi ortu yang hebat??? KIta harus bisa melakukan yang namanya kaderisasi Iman sehingga nantinya keluarga kita bukan hanya terhubung di dunia tapi juga terhubung di akherat.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka  (Ath Thur : 21)

Walau ada banyak sekali definisi kesuksesan yang berbeda-beda saya sangat setuju dng salah satu definisi kesuksesan hidup berikut ini:

Kesuksesan hidup diukur dengan kesuksesan dalam mengasuh anak – jadi orang tua hebat – diikuti segala kebaikannya.

Mungkin sampai sini banyak yg comment, ini summary workshop atau ringkasan text book siiiy, drtd kok yg dikeluarin dalil terus.. Percayalah, bahwa walau kesannya banyak dalil begini semuanya disampaikan dengan enteng dan fun oleh Ust Bendri Jaysyurrahman.

Sekarang saya bahas satu per satu yah contekan saya:

1. Sesibuk apapun kita saat tdk bisa memberikan kuantitas pertemuan fisik yang mumpuni untuk anak, usahakan emotional bonding antara anak dan org tua tdk pernah putus. Caranya gmn? Salah satunya manfaatkan waktu-waktu pendek pertemuan dengan anak-anak dengan sangat berkualitas.

2. Manusia terbaik yang disebutkan Allah dalam kitabNya adl Nabi Adam, Nabi Nuh, dan Nabi Ibrahim, sementara keluarga terbaik adl Keluarga Ibrahim dan Keluarga Imran. Pada workshop ini yang dibahas adl belajar dari Nabi Ibrahim.

Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya (An Nisa : 125)

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat(Ali Imran : 33)

3. Istilah org tua durhaka sdh ada sejak zaman Khalifah Umar bin Khattab ketika ada seorang anak yg demikian sulit diatur hingga sang ayah ingin negara menghukumnya. sebelum anak tersebut dihukum, anak tersebut menanyakan apakah org tua jg bs dikatakan durhaka pd anaknya, Umar mnjwb bisa. Kapan bs disebut org tua yang durhaka? JIka tdk memenuhi minimal 3 hak anak: Mencari ibu (pasangan) yang baik utk anaknya (konteksnya karena org tua laki2 yg sdg dibahas), memberikan nama yang baik, dan memberikan pendidikan atau pengasuhan yang baik. Dan anak tsb menjawab ayahku tdk memberikan ketiganya.

4. Jika belajar dari Ibrahim, minimal ada 7 hal yang harus kita teladani dari beliau:

  • Dimulai dari memilih pasangan yang tepat
Banyak sekali yang mengalami salah asuh karena salah pilih pasangan, karena selama ini tdk dibiasakan saat akan memilh pasangan utk dinikah carilah sosok yang tepat mjd “ibu / ayah” untuk anak bukan sekedar cari ISTRI atau SUAMI. Belum lagi byk anggapan bahwa menikah cukup bermodal 2 hal Dana dan Semangat (cinta) shg byk melupakan perlu ilmu.. Untuk ibadah haji selama 40 hari saja manasiknya bs berkali-kali, nah untuk menikan yg seumur hidup kbykn ilmunya disepelekan (kalo ga salah, kursus pra nikah di Indonesia sdh sgt dianggap tdk penting, pengalaman penulis pribadi bahkan ketika diwajibkan oleh Depag agar pasangan yg mau menikah mengikuti kursus tertentu yg terdiri dari keterampilan keluarga, psikologis dll banyak yg justru mengirim joki yg penting surat dr KUA bs keluar dg alasan sibuk, coba yahhhh bisa dibayangkan kan, betpa pernikahan terkesan begitu sepele, pdhl tanggung jawabnya sgt besaaar).
Kenapa akhirnya hal ini jadi sgt penting, karena mnrt Ust Bendri kebanyakan Permasalahan anak bermula dari tidak harmonisnya hubungan PASUTRI. Coba yah cek, apaka kita sdh cukup harmonis dlm memberikan pendidikan terbaik utk anak kita? Katanya ciri suami istri yg tdk ada mslh itu salah satunya bs saling bertatapan mata satu sama lain tanpa ada ganjalan, kmdn sering bicara berduaan tentang masalah keluarga bukan sekedar “eh, nanti yg jemput anak di sekolah kamu ya” atau “jgn lupa auto debit listrik ya..” atau “bisa gak handuknya dikembalikan ke tempatnya?”
Biasanya klo ortunya mesra dan harmonis anak2nya jg jd tumbuh dg penuh kasih sayang. Jangan sampe juga ga kompak antara ayah dan bundanya, hrs ada yg pegang otoritas di rumah dan itu hrs sdh disepakati di awal oleh ayah bundanya, misal untuk semua ijin keluar rumah di luar kepentingan sekolah ada di ayah, untuk pembelian perlengkapan anak (termasuk mainan) ada di bunda, dll. Jadi jgn sampe anak yg memanfaatkan kelemahan org tuanya krn motif kasihan.
Nah, krn judulnya belajar Nabi Ibrahim, sdh pasti donk ya, beliau sama sekali gak salah pilih istri, dari Siti Sarah beliau mendapatkan Ishaq dan Siti Hajar mndptkan Ismail dan keduanya sgt harmonis.
  • Menciptakan sejarah baik dlm diri anak

Awalnya saat saya membaca bagian slide ini, yg ada di benak saya adl saya hrs jd sosok yg hebat dan isnpiratif agar dpt dikenang sbg org yg hebat yg bs dibanggakan anak saya. Tapi ternyata, konteksnya dlm hal ini salah. Yang dimaksud Ust Bendri pd poin ini adalah memberikan di benak anak masa lalu atau sejarah pengasuhan yg baik sehingga Anak terikat oleh sejarah pengasuhannya – the power of history. Contohnya: Siti Hajar mampu memberikan sejarah pengorbanan luar biasa sebagai ibu, bagaimana beliau berusaha mencarikan Ismail air minum sehingga berlari 7 kali Shafa dan Marwah (tentunya hrs dibayangkan pd kondisi dahulu yg msh demikian tandusnya, bukan seperti skrg yg sdh sgt nyaman dengan lantai marmer dan berAC) betapa hal tsb akan tertanam di benak Nabi ismail pengorbanan ibunya yg begitu besar untuknya. Bersungguh-sungguhlah melakukan ini di Usia Dini sang anak. Nah, kalau kita sdh berjuang dan memberikan yang terbaik bg anak sedari mrk bayi, gmn caranya ngasi tahu dan menanamkan hal tsb pd diri anak? Dokumentasikan semua kegiatan dan pertumbuhan anak. Buat;lah diary untuk msg2 anak, kalaupun tdk bisa tiap hari diisi di momen2 pentingnya saat pertama kali tengkurap, gmn susahnya bunda menyiapkan MPASI dan menyuapinya, dll)

Bagi saya sndiri, alhamdulillah ibu saya tlh berhasil menciptakan sejarah yg sgt baik dan positif dlm diri saya, betapaAlm Ibu bercerita (bukan dlm konteks ingin dipuja) ttg mengantar sy tiap hari ke sekolah, membela saya saat TK ada temen yg membully, dg biaya seadanya mengajak ke dokter agar sy lbh nafsu makan, krn dulu berat badan sy kurang, bgmn heroiknya beliau di waktu tertentu tnp ada khadimat mengasuh 3 anak yg usianya hny terpaut setahun. Hal – hal seperti itulah yang membuat anak terjaga hormatnya kpd org tua mereka. Ust Bendri cerita betapa ada seorang ortu yg konseling ttg anaknya yg hobi ngamuk dan bs mencaci maki ibunya sndiri dg berbagai kata di kebun binatang (na’udzu billahi min dzalik) stlh ditelusuri krn si anak mdpt cerita nyata bahwa dulu sejak usia 1 tahun ia ditinggal oleh sang ibu yg mdpt beasiswa di sebuah negara maju dan hanya ditemani oleh pengasuh, sehingga ia merasa bukan anak yg disayangi dst. Di sini Ust Bendri menegaskan ASI yang kita berikan pd ananda bukan sekedar ASIP tnp emotional bonding, utk mnjaga hal itu setiap ada kesempatan bermesaraan lah dg anak kita, ciptakan sejarah yg baik dan tuliskan dlm bentuk jurnal klo perlu disertai foto dan video🙂

Ust Bendri sndiri mencontohkan beliau rutin menulis jurnal perkembangan anaknya, serta menyampaikan betpa istrinya berjuang saat hamil, melahirkan, mengasuh mereka di masa kecil, sehingga saat membaca atau diceirtakan kembali ttg soosk heroik org tuanya hampir tdk mgkn sang anak menjadi anak yg tdk berbakti kpd org tuanya, atau melanggar nilai-nilai islami yg ditanamkan oleh org tuanya.

  • Mencari tempat tinggal yg baik

Kata siapa mencari rumah hanya berdasarkan 3 hal, lokasi, lokasi, dan lokasi (yang kesemuanya menghrskan dekat dg fasilitas umum, jln tol, nilai investasinya cepat naik, dlsb) Untuk mendidik anak dengan baik, diperlukan lingkungan yang baik, sehingga wajib bagi org tua mencari t4 tinggal terbaik, bukan dlm konteks bagusnya berbagai fasilitas yg ada tapi hrs dekat masjid dan dihuni oleh komunitas yg baik.

Tempat yang nyaman (14 : 35). Dekat dengan masjid (14 :37)  Sebaik-baik tempat adalah mesjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar (HR. Ath Thabrani dan Al Hakim)
Pasar dalam konteks skrg ini mungkin bisa diartikan seperti mall ya, jadi boleh saja ngajak anak ke mall tp bukan rutinitas hiburan yang sgt sering dikunjungi melebihi masjid.
  • Memiliki visi pengasuhan….. (to be continued)

4 thoughts on “Workshop “Menanamkan Nilai Islam kpd Anak dg Kasih Sayang”_Summary (1of 2)

  1. Pingback: Workshop “Menanamkan Nilai Islam kpd Anak dg Kasih Sayang”_Summary (2 of 2) | Me, The World, and The Stories

  2. Pingback: My First Webinar_Family Strategic Planning | Me, The World, and The Stories

  3. Pingback: Kajian Pembinaan Keluarga Islami | TPA Al-Ikhwan

  4. Pingback: Kajian Pembinaan Keluarga Islami | TPA Al-Ikhwan Bukit Cengkeh I Depok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s