Semangat Mengajak Anak Riset dari Hal-Hal Kecil

Sebelum take-off pagi tadi, saya cukup tercengang saat diingatkan melalui tulisan di Jurnas edisi 4 Sept 2013 dari hasil wawancara dengan Yohannes Surya bahwa budaya riset di Indonesia masih sangat rendah. Saya belum tahu berapa paten yang tercatat pada tahun 2012 lalu, namun beliau mengungkapkan bahwa pada tahun 2010 Indonesia hanya menghasilkan 15 buah paten sementara Malaysia 302 buah, jepang  32.156, bahkan China mencapai 314ribu paten.

Sebagai seorang ibu, saya merasa tercubit oleh informasi tersebut. Saya belum tahu bagaimana nantinya saya bisa membuat minat anak saya terhadap riset tentang apa saja dapat tumbuh, namun mungkin hal sederhana yang dapat saya lakukan adalah selalu mengajak anak-anak saya berpikir dan menelaah lebih lanjut tentang berbagai hal. Tentu saja hal itu tidak bisa berdiri sendiri saya sendiri harus belajar tentang banyak sekali hal, bahkan harus berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakan hal yang cukup serius kepada anak-anak saya.

Misalnya saat semalam saya menceritakan kabar salah satu saudara kami yang mengalami sejenis infeksi otak sehingga menyebabkan separuh dari syaraf mata bagian kirinya mati dan berimbas pada mata kanan yang sudah seminggu ini tidak dapat melihat. Terjadilan percakapan singkat berikut ini:

Bunda (B) : Kakak, kita berdo’a ya untuk Mbah xxx

Kaka Faza (F) : Emang Mbah xxx kenapa bunda?

B : iya Mbah xxx yang kemarin bunda bilang matanya sakit, ternyata kata dokter susah disembuhkan. Jadi kakak, inget-inget ya harus dijaga matanya, gak boleh liat laptop sering-sering (kami membatasi anak-anak secara total melihat layar maksimal 1 jam saja setiap harinya) apalagi kalo deket-deket..

F : emang Mbah xxx sering liat laptop bunda?

B : *speechless,  mencoba ngeles, mbah xxx emang ga sering liat laptop sayang, tapi kalo mata kita sering liat laptop dekat-dekat nanti matanya bisa sakit (dalam hati saya memarahi diri sendiri yang seharusnya cari tahu dulu di internet penyebab penyakit itu secara detail apa sebelum menceramahi kakak L )

Saya juga harus berkonsultasi kepada psikolog tampaknya, apakah memberi contoh semacam itu bisa berdampak sama seperti efek “menakut-nakuti pada anak”? beberapa minggu yang lalu misalnya, saat kami membuka Google bersama di Ipad tak sengaja ada gambar anak obesitas karena kebanyakan makan Junk Food dan tertera merek olahan ayam goreng yang juga populer di benak Faza. Karena hafal dengan susunan huruf merek tersebut Faza langsung bertanya pada saya “Bunda, kalo kita makan K** nanti bisa kayak gini ya?” Supaya bisa mencakup aneka jenis junk food lainnya, saya dengan girang yang tertahan mengatakan “Gak Cuma K** kak, pokoknya ayam-ayam yang begini, burger, kentang yang dijual di restoran itu bisa bikin kita sakit begini”. Semenjak itu, dengan mudah saya bisa mengingatkan kembali si kakak saat di jalan mendadak “ngidam” minta junk food semacam itu. Tentu saja kami tidak steril dari makanan tersebut, tapi kami batasi hanya sebulan sekali anak-anak mengkonsumsi makanan seperti itu. Memang untuk kakak, agak sulit, kalau bawa bekal dari rumah keseringan kakak ga mau dengan alasan “aku maunya yang anget bunda” jadi kalau mau ke mana-mana saya usahakan kakak sudah makan di rumah andaipun terpaksa minta makan yang anget kami coba carikan yang tersehat dari berbagai pilihan yang ada.

Lho, kok jadinya melantur ke tips bepergian ya? Mommies, yang punya ide cara menumbuhkan minat riset kepada anak-anak, mohon sarannya yaaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s