Belajar tentang Project Based Ecological Model

Saya selalu sangat setuju jika orang tua tak pernah bisa sendiri dalam mendidik buah hatinya memahami dan mampu bertoleransi serta memiliki empati yang baik kepada lingkungannya. Saya dan suami pun demikian, kami memliki banyak partner dalam usaha kami mendidik Faza dan Haidar menjadi insan yang cerdas, kritis, dan berakhlak Qur’ani. Salah satu partner yang cukup berpengaruh menurut kami adalah “sekolah”. Kriteria pertama kami memilih sekolah bagi masing-masing anak kami adalah kesesuaian nilai yang diajarkan dan metode pengajarannya dengan kebutuhan masing-masing anak kami. Mengapa kebutuhan masing-masing anak bisa berbeda padahal hasil yang diinginkan relatif sama, karena kami setuju dengan pandangan bahwa jika di depan kami ada 1000 anak maka ada 1000 karakter yag berbeda pula. Tips memilih sekolah kayaknya sudah pernah saya share sebelumnya, nanti saya link stlh ketemu arsipnya ya…🙂

Kali ini saya ingin berbagi tentang PBEM (Project Based Ecological Model), Model ini saya ketahui secara agak mendalam awal minggu lalu saat saya menghadiri Parents Teacher Meeting di sekolah Haidar, sebelumnya saya belum paham detail hanya tahu kulit-kulitnya saja dari diskusi singkat dengan guru dan principal di sana saat mendaftarkan Haidar dan menemani masa “bermain”nya di sekolah.

Well, mengutip persis penjelasan Miss Shinta sebagai Curriculum Coordinator di sekolah Haidar, penjelasan tentang PBEM adalah:

Our curriculum is integrated and emergent, which bases itself on the approach of Project-Based Ecological Model (PBEM). Under the PBEM approach, the term, spanning over three months, would allow children to go through three phases in carrying out project work:

Phase 1 – Building on topic based on what children already know
Phase 2 – Fieldwork, Investigation and Discovery
Phase 3 – Concluding the Project

The key theorists behind this approach are Reggio Emilia, Jean Piaget, Lev Vygotsky, Urie Bronfenbrenner, Maria Montessori etc.

The PBEM approach provides our children with a developmentally appropriate curriculum that considers their interests, abilities and surroundings.

The curriculum evolves and progresses with the child, his or her classmates and teachers. Rather than restrict every child with the same theme, this new approach provides for individual differences, interests and abilities.

The PBEM curriculum also has a greater emphasis on family involvement and collaboration in the children’s learning journey.

A letter to parent would be given out each term to inform parents on the learning objectives and class activities. Below are some of the highlights:

 
  • Project work and field trips based on a variety of topics

  • Windows on Literacy™ (Readers by National Geographic Series)

  • Practical Life (Integrated Montessori activities)

Nah, saya coba ceritakan prakteknya di dunia toddler dan nursery 1 yang sedang dijalani Haidar ya.. Term yang lalu Haidar belajar tentang Family, karena masih toddler (15m – 30m) tentunya mereka kesulitan untuk berdiskusi dengan classmatenya (secara bicara aja masih hanya Allah dan ayah bundanya yg tahu maksud dari “bahasa isyarat” mereka ini apa) jadi sudah ditentukan oleh gurunya apa yang akan dieksplorasi di kelompok ini. Project family ini kemudian menghasilkan maket rumah-rumahan di kelasnya, kami para orang tua mengumpulkan foto-foto individu setiap anggota keluarga dan foto bersama sekeluarga, kemudian para anak di kelompok itu dipandu membuat family tree dan project akhirnya ditutup dengan project presentation berupa pentas Toddler menyanyikan lagu “We Are Happy Family” sayang hari itu Haidar sakit, term berikutnya Haidar belajar tentang Tumbuhan, kemudian mereka field trip ke Kebun Raya Bogor sambil berpiknik bersama.

Image

Term ini Haidar belajar tentang Hands and Feet, minggu depan Haidar akan field trip ke Alfamart untuk mempraktekkan bahwa dnegan tangan dan kaki kita bisa berbelanja kebutuhan memasak dan mempraktekkan masakan sederhana seperti sandwich dll.

Sejujurnya saya sangat terkagum-kagum dengan perkembangan metode pendidikan anak usia dini yang ada saat ini, metode semacam ini saya yakin telah banyak diterapkan di berbagai sekolah selevel PAUD, tinggal bagaimana para guru mampu meramunya menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi anak sehingga definisi yang tercakup dalam PBEM yaitu concrete investigation, exploration, construction and discovery of related topics dapat dipadukan dengan menarik dan bermanfaat.Image

Untuk orang tua juga jangan “berlepas tangan” setelah menyekolahkan buah hatinya di sekolah “terbaik” menurut definisi mereka. Saya menganut Faham bahwa sekolah dan rumah harus align sehingga orang tua dan guru, juga pengasuh di rumah harus berpartner dengan sepenuh hati mencari minat dan bakat yang perlu dikembangkan dari setiap keunikan karakter anak-anak kita. Nantinya saya yakin tujuan PBEM dan pembelajaran lainnya seperti:

  • Support the children’s development
  • Help the children to develop new skills
  • Add to the children’s prior understanding of their world
  • prepare the children to live more fully

dapat tercapai…. Amin, semangat mengeksplorasi dunia anak-anak bunda…🙂 Sesungguhnya bunda lah yang banyak belajar dari setiap tahapan perkembangan kalian.. Ayah bunda sayang kalian karena Allah.

Image

4 thoughts on “Belajar tentang Project Based Ecological Model

  1. Faza & haidar sekolah dmn nay?? Syifa udah 2.5th tp blm bs masuk paud. Nunggu umurnya 3th dlu. Sebenarnya metode belajar yg baik untuk anak bgmn sih? Usia brp sbaiknya mulai sosialisasi dgn anak seumurnya? Klo terlalu dini d sekolahkan apakah baik bg anak? Pilih sekolah ini yg susah.

    • Dear Bunda Syifa🙂 ini nama bundanya siapa ya? hehe… metode belajar mengikuti nilai yang ingin ditanamkan dan karakter awal anaknya bundaa… Faza skrg di TKIT Raflesia, Haidar di Cambridge Child Development Center🙂 usia berapa tergantung kondisi selama di rumah anaknya mendapat stimulasi yg cukup baik, dy tdk perlu sekolah, tapi jika ortu merasa belum bs maksimal memberikan stimulasi terbaik, maka sebaiknya berpartner dengan sekolah yg dipandang mampu memaksimalkan stimulus tersebut, so far anak2 saya bermain di sekolah mulai usia 8 bulan dan alhamdulillan mereka senang bermain smbil belajar😀

  2. Pingback: Haidar’s Project Presentation_1st Term | Me, The World, and The Stories

  3. Pingback: Science Experiments for Kids | Me, The World, and The Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s