Menjadi Bagian dari “Lipatan” Keluarga Besar Sabang Merauke

 Merantaulah…

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.

Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena dia tertahan.

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak ‘kan keruh menggenang.

Singa takkan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur takkan kena sasaran.

~ Imam Syafi’i ~ dari blog Mbak Gita Aryana

Sabang Merauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali)

Saya mengenal program ini dari sebuah pesan di milis penerima beasiswa Goodwill, entah kenapa saat itu juga langsung “klik” dengan program itu, langsung download form pendaftaran FSM (Famili Sabang Merauke) mengisi dan mengirim kembali sebelum ijin suami (karena yakin suami tercinta pasti setuju😀 ). Setelah beres semua urusan pendaftaran baru ijin suami dan didukung dengan penuh cinta, terima kasih suami🙂

Kurang lebih 2 minggu saya dihubungi via email bahwa tim Sabang Merauke akan datang ek rumah untuk diskusi sekaligus interview “kepantasan” kami menjadi FSM. Setelah disepakati hari pertemuannya, Kak Dhani sebagai perwakilan SM (Sabang Merauke) datang dan ngobroool panjang lebar tentang aktifitas kami sehari-hari, kebiasaan yang kami lakukan, kemauan kami menerima keberagaman dari calon ASM (Anak Saang Merauke) yang akan datang.

Tak disangka-sangka, stlh sgt tidak pede bakal diterima menjadi FSM, email ucapan selamat itu datang, saya dan suami sangat gembira dan sudah menbak-nebak kira2 suku apa yang akan menjadi keluarga baru kami. Dan, tanggal 23 Juni 2013 di hari Minggu yang cerah tibalah saat orientasi bersama 9 FSM lainnya. Hari itu sebenarnya kami ingin hadir lengkap sekeluarga, namun apa daya? Padatnya jadwal di hari itu membuat kami sekeluarga harus berpencar, saya dan Faza ke kampus di pagi hari untuk menghadiri dan bersilaturahim dengan teman2 TDA Depok, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke lokasi orientasi yang berlokasi di Wisma Kemenkes dengan naik kereta CL tujuan Sudirman, alhamdulillah walaupun kereta cukup penuh karena musim liburan ada seorang bapak yang berkenan memberikan tempat duduknya untuk saya agar bisa memangku Faza. Sejak pagi, saya sudah cerita kepada Faza bahwa kita mau jalan2 agak jauh jadi kaka harus siap ya? Faza menjawab siap dan sumringah.

Image

Ikut mendengarkan pembuka TDA Forum edisi Depok🙂

Image

Bergayya smbil nemenin bunda ke ATM..

Nah, dari Sudirman kami harus berjalan cukup jauh ke halte Busway Sudirman, alhamdulillah Faza tabah🙂 kami naik sampai halte Al-Azhar, nah.. pas turun busway kayaknya sdh mulai kecapekan, Faza minta digendong dan beli minuman sblm melanjutkan perjalanan ke Wisma Kemenkes, tryt Faza jga kelaparan, akhirnya saya pesankan M** untuk mengganjal perutnya khawatir menu lunch di lokasi beda dg selera Faza.

Akhirnya kami tiba di lokasi Orientasi daaan semuanya begitu hangat menyambut kami, karena terlambat saat saya datang sdh mulai membahas apa saja yang harus ISM (Ibu Sabang Merauke) siapkan dlm menyambut kedatangan para ASM.

Kami pun mulai list down apa saja yang hrs disiapkan, dari akomodasi, menata kamar ASM, menyatukan ASM dan SSM (Saudara SM, alias anak2 FSM), hingga terakhir berdo’a agar semua baik2 saja, hm.. memang seorang Ibu ya..🙂

Setelah makan siang, kami menjalani sesi konseling dengan Pak Adam dan Bu Hanny yg sdh malang melintang di dunia per “host fam” an, beliau berdua adl mantan AFS, juga sdh berulang kali menjadi host fam untuk pelajar dari luar negeri. Singkat cerita sangat banyak yg saya dapat hari itu, juga senang mendapat banyak teman ibu-ibu baru yang sangat hangat walaupun saya sgt junior dan sering tanya2.

Taraaa, hari penjemputan ASM pun tiba, hari itu tgl 29 Juni sekaligus welcoming dinner di restoran Ever Fresh, saya dan suami bersama Faza naik kereta menuju Karet untuk menghindari kemacetan Jakarta dan memilih naik taksi saat pulang nanti.

Alhamdulillah, kami terpilih untuk menjadi host fam Zana yang berasal dari Aceh, murid berprestasi yang selalu ranking 1, jago menggambar, anggota OSIS juga, walaupun agak canggung, tapi Faza senang punya Kakak baru.

Keesokan harinya setelah Ayahnya Faza mengantar tante yang berangkat umroh kami pun berangkat ke tengah kota untuk mengajak Zana hadir di resepsi pernikahan Mona (sahabat bunda di kantor) kemudian bermain ke Bobo Fair.

Image

pose di depan gerbang Bobo Fair

Image

Zana terbukti jago gambar waktu ikutan lomba Gambar by Kompas

Minggu pertama Zana di rumah kami, ternyata barengan dengan kejadian yang tidak saya sangka2, adik bungsu saya ternyata harus operasi syaraf tulang belakang yang menderita HNP L-45. Jadi karena harus bolak balik ke RS, saya hanya sering berinteraksi dengan Laura dan Zana via telepon walaupun sempat juga beberapa kali mengantar Zana ke stasiun dan Jakarta, maaf ya Zana🙂

Zana dan Faza tanpa didekatkan sudah otomatis dekat, setiap saat kalau Zana sedang di rumah Faza tak henti2nya mengikuti ke mana Zana pergi, mereka bermain bersama , belajar bersama, menggambar, mewarnai, naik sepeda, dll.

Weekend kedua kami bersama Zana, hari Sabtu kami ajak Zana mengaji di masjid untuk mengikuti kajian Fiqh dan kelas Robotic. Siangnya kami mengajak Zana ke Margo City untuk makan siang bersama dan beli buku (di Aceh kata Zana belum ada toko buku) jadilah Zana membeli 2 buku soal latihan dan 1 buah novel. Alahmdulillah..

Image

Hari minggunya, sebelum menjemput Om Icam di RS Jakarta, kami mengajak Zana ke Taman Mini berjalan2 di beberapa rumah adat dan mengeksplorasi PP Iptek, tak hanya Zana yang sumringah, Faza seperti tak kenal lelah berlari ke sana kemari melihat berbagai alat peraga di sana, Haidar yang awalnya sangat semangat di akhir tertidur kecapekan🙂

Image

Daan, tanpa terasa minggu kedua aktifitas Zana sdh harus berakhir tgl 13 Juli sabtu lalu, saya harus mengantar Zana dan mengikuti de-orientasi untuk ASM, KSM, FSM di wisma kemenkes. Siang sampai sore airmata kami terkuras karena terus berbagai pengalaman yang kami alami dan berpisah dengan ASM yang sdh kami anggap anak kami sendiri.

Kami semua berjanji untuk selalu mengedepankan nilai Toleransi, Ke-Indonesia-an, dan Pendidikan dalam hidup kami, karena pendidikan membuka pintu pilihan dan toleransi tidak bisa hanya diajarkan melainkan harus dialami dan dirasakan.

Setelah sejenak mengusap air mata, kami pun berpindah ke lokasi farewell dinner di kediaman Ibu Yani Panigoro, daan bisa ditebak tentunya, welcoming speech dari Bu Yani, speech dari Pak Anies serta kesan pesan dari seluruh FSM membuat saya dan suami merinding merasakan besarnya energi persatuan bangsa di sekeliling kami.

Terima kasih Keluarga Besar Sabang Merauke, telah memperkenankan kami menjadi bagian dari “lipatan”. Seperti tulisan Ade Chandra, berikut ini

Tangan saya membolak balik kertas dan melipatnya menjadi empat bagian. Di salah satu sudut lipatan, tangan saya menekan kuat-kuat. Dan kemudian kertas itu saya buka lagi dan diletakkan di atas meja.

“Tadi kertas ini bersih tak berjejak. Lebar dan utuh. Ada empat sudut yang saling berjauhan, tidak bertemu, tidak bersentuhan. Lalu, saya pertemukan keempat sudut tersebut pada satu titik”, saya ingat ujung lipatan yang saya tekan kuat-kuat. “Pada saat saya lipat, ujung-ujung tiap sudut kertas tersebut bertemu dan bersentuhan. Ketika kertas saya buka, kertas ini telah berubah. Ia mempunyai bekas lipatan yang terlihat jelas yang masing-masing mengarah ke tiap sudut kertas”.

“Kertas yang dilipat ini ibarat orang-orang baik yang dipertemukan. Anggap ada empat orang baik yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, yang tak saling tahu dan ‘bersentuhan’. Mereka kemudian disatukan ke satu momen, titik atau tempat untuk saling mengenal. Di sini, keempat orang-orang baik itu bertemu “.

“Orang-orang baik itu mungkin bertemu sebentar dan kembali ke sudutnya masing-masing, ke asal dan tujuan sebelumnya. Namun lihatlah, ketika mereka telah berpisah, jejak-jejak kebaikan (sambil menunjuk ke arah bekas lipatan) tetap ada dan terlihat jelas. Masih terhubung dan bersambung. Ketika hendak melipat ke bentuk semula akan lebih mudah karena polanya sudah ada. Tidak perlu garis permanen untuk melihatnya, jejak kebaikannya sangat jelas untuk dibaca”.

Semoga dari “lipatan” ini akan menjadikan semakin banyak sudut yang bertemu dan jejak lipatan terus membekas dan bermanfaat bagi Indonesia…

One thought on “Menjadi Bagian dari “Lipatan” Keluarga Besar Sabang Merauke

  1. Pingback: Lipatan Baru Bertajuk “Sangatta Membaca” | Me, The World, and The Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s