One Day Trip at Lombok (Work Hard,Play Hard)

Saya dan teman-teman UKMC landing di Bandara Internasional Lombok (Praya) Selasa lalu tanggal 26 Feb pukul 21.30, daaan ternyata bandara yang baru posisinya agak jauh dari kota, jadilah masih sejam kami menyusuri jalanan Lombok yang terlihat sangat lengang (compare to Jakarta ya, sodara2)

Tiba di The Santosa, langsung ambil posisi tidur masing2 bersiap ngajar esok hari sehariaan. Sepanjang hari Rabu, posisi saya gak jauh-jauh dari ruang kelas, ruang makan, ituuu aja. Padahal ya, Pantai Senggigi terpampang indah di depan mata. Sungguh merasa berdosa, melihat pantai yang kami anggurin seharian..😀

Untuk menebus dosa, keesokan harinya sekaligus hari terakhir saya di Lombok, setelah ber”teletubbies ria dengan teman-teman kantor, kami berpisah di lobby hotel karena mereka akan lanjut ngajar dan saya harus menunaikan tugas kenegaraan lainnya.yaitu survei ke beberapa lokasi di Lombok daaan pulang ke Jakarta tentu saja.

Berbekal selembar kertas daftar alamat yang harus saya kunjungi hari itu dan rental mobil plus sopir yang saya kontak mendadak malam hari sebelumnya, marii kita mulai One Day Trip at Lombok Edisi work hard play hard…🙂

Saya mengawali perjalanan dengan berdo’a tentu sajaa, hihi, daan berkonsultasi dengan Pak Syukur (driver saya hari itu) setelah saya sebutkan 5 area yang ingin saya tuju, ada 1 lokasi yang ditolah karena ternyata Kabupatennya berbeda dengan yang saya temukan di web, dan daripada saya gak bisa pulang sorenya karena ketinggalan pesawat demi mengunjungi lokasi tersebut, berkuranglah ittinerary saya menjadi hanya 4 lokasi.

Sebagai review awal, sejujurnya LOmbok ini ayiiiik banget, bayangin ajah

1. Biasanya kan ya, sambel makan yang di hotel itu gak recommended, tapi di The Santosa, sambelnya enak… banget, ditemani ayam taliwang (nah kalo ayam taliwang nya rasanya so so siy…) maknyuus
2. Gak seperti di Bali, jalanan di Lombok cukup lengang, jadi perjalanan ke manapun lancar jayaa

3. Bandara baru nya juga udah keren banget

4. Harga – harga masih relatif muraah dan sangat terjangkau

Tapi tetep ada negatifnya lah yaa dikit, speerti:
1. Just like Jakarta, Motor msh byk yg seenaknya

2. Orang – orang di sekitar hotel dan jalanan belum seramah Bali yang selalu tersenyum dan menyapa wisatawan dengan ramahnya…

Yang penting diketahui:

1. Panggilan Lalu dan Raden di Lombok memiliki makna khusus, kyai hai = Tuan Guru, Lalu = panggilan untuk kaum bangsawan kelas menengah, Raden =panggilan untuk kaum bangsawan kelas atas

2. Mayoritas orang di Lombok adalah penggemar berat Rhoma Irama, sampai-sampai sopir yang membawa saya berkeliling hari itu tak henti mendendangkan lagu “Bang Haji” panggilan mesra mereka untuk Rhoma. Lucunya lagi, pokoknya kalo “Bang Haji” beneran nyalon, pasti menang mbak di sini, kalau ada yang berani menghina “Bang Haji” di sini bs diamuk massa. Yang langsung membuat aku berjanji sama diri sendiri jangan sampai keceplosan nyindir “Bang Haji”😀

3. Hari Sabtu dan Minggu di LOmbok, ramaaai sekali, tak hanya bertemu dengan wisatawan lokal dari daerah lain, warga Lombok pun turut memadati pantai-pantai di sana. jadi kalau ingin berlibur ke Lombok, sebaiknya ambil cuti di hari kerja

4. Mau cari oleh2 kaos khas Lombok? Bisa datang ke toko grosir di Pasar Cakranegara Mataram, ada Agen Arief di sana yangmenyediakan aneka kaos Lombok harga grosir, bisa beli satuan pula, dan masih bisa ditawar dikit2🙂 Kalo mau nyari terasi enak khas Lombok, bisa juga jalan naik ke pasar tradisionalnya.. Seruuu

5. Pengen nyoba bikin sendiri gerabah khas Desa Banyumulek, Lombok Barat, langsung datang saja ke beberapa lokasi kerajinan yang cukup besar di sana untuk berkreasi bersama pengrajin (jangan lupa berfoto ria saat membuat gerabah dan berikan tip kepada pengrajin yang mengajari rata-rata yang diberikan 5-10ribu sajah kok), kemarin saya bikin gerabah gambar kura-kura bertuliskan “Faza dan Haidar” sayangnya sukses tertinggal di mobil sewaan saat jalan ke Bandara, saking niat jemur itu gerabah jadi lupa ga dimasukin ke tas, hiksss

6. Pilihan lain berkreasi kain khas tradisional pun ada di sana, kemarin saya mampir di Desa Sukarare, Lombok Tengah. Serunyaaa bisa belajar menenun, karena ternyata untuk selembar kain saja, waktu yang dibutuhkan bisa 1,5 bulan.
Gak sabar nunggu kaka Faza dan ade Haidar makin gede biar bisa ikutan bundanya travelling ria sambil bekerja🙂 Kemaren sempet nyari hotel yang ada fasilitas baby sitting namun apa daya lokasi menginap kami belum ada fasilitas itu😦 hikss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s