Ziarah Penuh Makna

Alhamdulillaaah, bingung harus dinyatakan dengan bahasa apa untuk mengungkapkan betapa bahagia saat akhirnya kami bisa berada di sana. Di depan ka’bah rasanya kami berdua merasa keciiil sekali, merasa begitu berdosa sehingga air mata tak ayal lagi berjatuhan…

Ziarah ini adalah pertama kali kami menginjakkan kaki ke tanah suci, alasannya?? Pertama tentu saja ziarah ke kota Haraam adalah impian setiap muslim, kedua ini adalah amanah almarhumah Ibu yang sebelum beliau meninggal thn lalu di Madinah telah berpesan pada kami untuk berumroh bersama tahun ini menggunakan “rezeki tak terduga” yang Ibu terima dari hasil penjualan rumah kecil kami di pinggiran Jakarta, ketiga tentu saja setelah meninggalnya Ibu tahun lalu dan almarhumah dimakamkan ke sana pastinya kami ingin berziarah ke makam beliau di Baqee’ Madinah.

Bismillaaah, walaupun di satu sisi senang tak terkira bisa merasakan nikmat dan indahnya beribadah di tanah kelahiran Rasulullah SAW, tempat beliau bersyiar, dan tempat diturunkannya kita suci Alqur’an tapii tetaap saja ya, sewaktu berangkat terbayang-bayang juga wajah mungil Kakak Faza dan Adek Haidar. Nah, sekali lagi bismillah, kami titipkan mereka kepada Allah, dengan mengamanahkan pengasuhan ke tantenya🙂

Baiklah, kita ceritakan tips dan perjalanan kami dari awal yaa… semoga tips – tips ini bermanfaat untuk pembaca sekalian.. (halaah gayya..)

1. Tentukan biro perjalanan umroh yang berpengalaman dan dapat dipercaya, kami sekeluarga ikut bersama rombongan Paman Alm Ibu, namanya Adzikra, Jabal Rahmah Group yang bermarkas di Surabaya. Agak susah payah si, bolak balik Jkt Sby tapi kan ya.. demi ngikutin Ayah dan bisa silaturahim juga ke rumah mertua, jadilah kami berangkat ke Sby dulu, baru Sby-Hongkong-Dubai-Jeddah. Nah, kalau ikut sama biro yang notabene masih saudara ini selain dapat diskon tambahan (sedikit siih, hihi) pluus bisa lebih bebas jg bawa bakasi😀 ketauan udah niat bawa oleh2 seabreg..

2. Siapin paspor, suntik meningitis dll.. pokoknya kalo bisa H-2 bulan semua dokumen sdh ready kecuali visa yah.. karena untuk visa kan yang ngurus bironya kita tinggal ngasi paspor, surat nikah atau keterangan muhrim kalau yang ga sama pasangannya

3. Minimalkan barang bawaan, di sana semua tempat ber-AC jadi jangan khawatir baju cepet lepek atau bau, bawa secukupnya sajaaah supaya space oleh2 bisa luaas. Kemarin kami masing-masing membawa 1 koper ukuran 22 inch plus ransel trolley, jangan lupa bawa tas slempang untuk naruh paspor, dompet, hp, kacamata item, masker, qur’an, pokoknya printilan kecil2 yang hampir selalu harus dibawa kemana2

4. Waspadai cairan melebihi ketentuan untuk barang yang di kabin, walaupun ini ketentuan yang sudah umum tapi orang2 masih sering lupa (seperti sayaaah, yang lupa ga naru cairan softlens di bagasi, walhasil harus kerepotan nyari di mekkah karena dibuang waktu screening dan ga bs lolos) yang sering kelupaan macam parfum, sabun cair dll

5. Buat daftar do’a dan oleh-oleh sedari masih di Indonesia atau di pesawat, kita kemarin baru bikin di pesawat (karena total perjalanan kami cukup lama yah, pake transit di hongkong jadi total2 hampir 14 jam di pesawat, 4 jam Sby-HK dan 9 jam HK-Jeddah karena transit juga di Dubai hampir sejam). daftar do’a penting karena biasanya suka bingung mau doa apalagi di masjidil haram, suami malahh detail banget smpai ditulis putaran pertama thowaf doa apa aja, kedua apa, sampai ke tujuh. Saya lebih simple, pokoknya semua list doa saya tuliis, dari do’a untuk diri sendiri, suami, keluarga, teman-teman, negara, dll. List oleh-oleh tak kalah pentingnya ya, sodara2, kenapa? Pertama kita jadi hemat waktu krn lebih fokus nyari jenisnya, kedua tentu saja jadi hemat uang dan tenaga karena jd ga ada barang yg mubadzir tak bertuan. Kecuali untuk anak2 kami ga pake list, tiap ada barang yang lucu dan pantes, langsung belii, hihi sama aja yahh boross, tapi setidaknya ga mubadzir🙂

6. Rajin-rajin olahraga sebelum umroh yaa.. Di sana cukup penuh perjuangan, walaupun hotel ga terlalu jauh tapi tetap aja, sehari kan bisa sampai 5 kali mondar mandir, belum thawaf dan sa’i, juga ziarah ke tempat2 bersejarah di sekitar Mekkah dan Madinah.. Jadi supaya tetap fit, dari di tanah air rajin olahraga makan yang sehat dan bergizi, minum vitamin atau suplemen bila perlu.

7. walaupun di hotel masakan ala Indonesia, beberapa orang (termasuk suami sayaah) kurang cocok dengan gaya memasaknya, maklum kita kan orang Indonesia (baca:jawa tulen) jadi sama rasa suka agak2 pilih2 jadi untuk setype seperti suami eikehh silakan bawa makanan cadangan dari rumah, semacam kering teri tempe, abon, sambal kemasan, popmie, atau makanan lain yang awet dan enaak.

8. Aktifkan roaming internasional in case blm bisa pakai nomer murah di negara tujuan. Jangan lupa juga, telp provider kartu kredit untuk menginformasikan akan digunakan di negara tujuan..

Tips nanti lagi, sekarang saya share cerita perjalanan kami yaah, semoga masih inget semua detailnya:

Day 1: Check in di Bandara Juanda jam 6.30 flight jm 8, setelah cipika cipiki sama semua sodara yang nganter, bismillah kami berangkat. 4 jam kemudian tibalah di Hongkong, mendarat ketemu tour leader kami, dan kami berkeliling hongkong, mulai dari Avenue of Star, Jewelry Center, yang paliing seneng saat sholat di Islamic Center nya.. Kami ketemu banyak TKI kita yang sedang kursus atau ibadah di sana, feel at home… kenalan sama Ibu Mimi Jamilah ketua dakwah di sana, senangnyaa. Terakhir sebelum kembali ke airport kami diajak belanja di Peak Tower sekalian mampir ke Madame Tussauds bagi yang berminat, kami memilih belanja sajahh di sekeliling Peak Tower sambil terus mengeratkan jaket karena angin dan udaranya dingiiiin banget.

Day 2, setelah perjalanan cukup panjang, terutama dengan agenda muntah setelah makan karena turbulensi yang cukup menggoyang seluruh badan, alhamdulillah jam 11am kami tiba di Jeddah. Berbeda dengan Hongkong yang tim imigrasinya sigap, di Jeddah kami harus mengantri cukup lama karena .. gak tau juga kenapa pokoknya antri, tapi ingat saat ibadah, kita harus sa.. bar.. yak betuul. Jam 2pm kami baru istirahat sekaligus berihram di kamar apartemen di Jeddah, alhamdulillaaah, nikmatnya ayam bakar ala Saudi yang kami nikmati. Ba’da Isya’ tiba juga kami di hotel Salam An-Nakheel di Mekkah, rasanya sudah ga sabar ke masjidil haram, tapi kami diminta check in masuk kamar dulu plus makan malam.

Jam 9 an akhirnya kami bisa menginjakkan kaki di masjidil haram, subahanallaaah, seperti yang saya tulis di awal blog ini, ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan, bahagia yang membuncah, pokoknya indah, momen ini rasanya tiada duanya. Kami mengucap Labbaik Allahumma Labbaik berkali-kali sambil meneteskan air mata, rindu kepada Rasulullah dan mengharap rahmat dari Rabb. Jika kondisi ka’bah sedang sangat ramai sebaiknya thawaf dilakukan di lingkaran luar saja, kecuali saat agak sepi (dan itu jarang sekali) kita bisa agak mendekat dan di putaran terakhir mencium hajar aswad atau multazam, sholat di hijr ismail, dan mengakhirinya dengan shalat sunnah di belakang multazam kecuali saat thawaf wada’. Setelah menyelesaikan thawaf dilanjutkan dengan sa’i sesuai urutan rukun umroh, ternyata medannya jauh lebih bersahabat dari yang saya bayangkan, karena saya pikir masih berupa bukit tapi ternyata sudah cukup nyaman dengan lantai marmer walaupun tetap disisakan space asli bukit shafa dan marwah. Bagi yang tidak kuat pun telah disiapkan jalur khusus untuk kursi roda, di kanan dan kiri ada space untuk minum zam-zam. setalah 7 kali bolak balik kami akhiri umroh dengan tahallul. Lega rasanya.

Day 3, bangun pagi2 jam 3an kira2, langsung berangkat ke masjidil haram untuk tahajud dan shubuh sekalian. Ba’da shubuh kembali ke hotel sudah bawa tentengan, hihi, banyak pedagang berkulit dan berbaju hitam di pelataran masjidil haram, jadi dengan dalih nyicil oleh2, kami sudah bawa beberapa gamis laki-laki dan perempuan🙂

Setelah sarapan, mandi dan shalat dhuha, kami diajak berkeliling masjidil haram, ke masjid kucing, masjid jin, rumah rasulullah, makam Ma’la, dll. Dhuhur – isya’ shalat jama’ah di masjid pokoknya mondar mandir gitulah supaya bisa nyambi istirahat juga di hotel. jarak hotel ke masjidil haram kurleb 500m maklum halaman masjidil haram ini luaas sekali.

Day 4, hampir sama dengan day 3, bangun dini hari tapi sebelum tahajud kami thawaf dulu sambil berusaha mencium multazam, dan alhamdulillaaah berhasil dengan dilindungi oleh suami tercinta, berdoa sepuasnya di sana. kemudian masih diberi kesempatan pula sholat di hijr ismail, bahagia… Setelah sholat shubuh dan dhuha kami berpakaian ihram kembali untuk mengambil miqot umroh kedua di Tan’im. Sebelum ke tan’im kami diajak berkeliling ke Arofah, jabal tsur, jabal rahmah, mina, muzdalifah, dll. Berziarah ke lokasi tersebut, jadi bisa lebih memvisualisasikan perjuangan Rasulullah dulu, shalawat dan salam untukmu ya Rasulullah. Setelah sholat sunnah dan berihram kami kembali ke hotel untuk menuju masjidil haram dan menunaikan umroh yang kedua. Alhamdulillah, sukses juga🙂

Day 5, tak jauh beda, selain memaksimalkan ibadah, kami jg memaksimalkan wisata belanja🙂 di sekeliling masjidil haram ini banyak sekali toko, dari yang levelnya ITC sampai Pacific Place jadi tinggal pilih sajaah

Day 6, hari terakhir di Mekkah, ba’da sholat dhuha kami menunaikan thawaf Wada’ dan kami pun beranjak ke Madinah. Perjalanan Mekkah-Madinah ditempuh dalam waktu kurleb 5-6 jam termasuk istirahat karena walaupun jaraknnya mencapai 450km tapi dengan kondisi jalanan yang lengang kang Asep driver bus kami yang berasal dari Cianjur bisa memacu kendaraan hingga kecepatan 130km/jam. Langsung inget Jakarta yang kalo macet cuma bisa 20km per jam. Tiba di Madinah, masuk hotel, kemudian masih sempat melihat ke Masjid Nabawi, kubah makam Rasulullah, gerbang Makam Baqee’.

Day 7: Sholat shubuh dan dhuha di Nabawi, berziarah ke Masjid Kuba, Kebun Kurma, dll. Sholat Jum’at di masjid Nabawi, sudah tiba satu jam sebelum adzan tapi sudah gak kebagian shaf di dalam masjid lhooo, subahanallaah. Sorenya ba’da sholat Ashar, saya niatkan mencari penjaga air zam-zam yang katanya menolong Ibu sebelum beliau menjemput ajal. Saya pakai lah gamis seragam yang waktu itu juga sedang dikenakan oleh Ibu. Setelah agak sepi, saya datangi sekumpulan Mbak2 yang bantu bersihin lokasi Nabawi dan mengisi gelas untuk minum zam-zam. 

Naila (N): Mbak, kenal mbak yang dari Bandung ndak?

Mbak (X): Namanya siapa mbak? Yang dari Bandung banyak di sini..

N: yang waktu itu nolong Ibu saya mbak, setahun yang lalu kira2, dulu pakai baju ini (sambil nunjuk lengan baju)

X: Oohh Mbak, anaknya Ibu itu?

N: Mbak tahu juga waktu Ibu saya jatuh di sini?

X: Iya mbak, kita nolongin rame2 waktu itu. Jadi Ibunya Mbak jatuh di dekat gerbang raudhah, ditolong sama Security Nabawi (perempuan bergamis hitam, biasanya badannya gede2) kemudian karena tahu dari indonesia, kami disuruh bantuin. Ibu Neneng waktu itu yang meluk terus kami yang lain ikut bantu melafalkan dzikir. 

N: Jadi Ibu saya meninggal di mana ya Mbak? Sempat ke RS ndak?

X: Gak mbak, waktu itu meninggalnya di kantor lokasinya dekat pintu masuk nabawi.

Alhamdulillah, jadi tahu cerita lengkap bagaimana Ibu meninggal. Daan, sejujurnya saya jadi makin ingin meninggal seperti Ibu, meninggal saat ibadah di kota suci Madinah Munawarah, di dalam masjid nabawi, dimakamkan di makam para istri rasul, khalifah, dan sahabat Nabi di Baqee’. Ya Rabb ijinkan hamba khusnul khatimah di Tanah Haram-Mu. Amiiin.

Day 8: hari terakhir di Madinah, sore kami harus kembali menuju Jeddah. Kami menginap di hotel Al-Azhar Jeddah, dan sebelum check in kami sempat belanja (lagi) di pasar Jeddah yang banyak sekali toko dan orang Indonesia di sana sampai2 tulisan di banner selamat datang beberapa toko di sana adalah “Sugeng Rawuh” atau “Wilujeng Sumping”. Oh iya kalau di Madinah ada tempat grosir yang asyik banget untuk nyari oleh2 massal seperti parfum, lipstik, henna, jilbab, pashmina, namanya markazul yamamah, tapiii taksi di sana tidak bisa membaca huruf latin jadi usahakan untuk setiap lokasi yang ingin dituju dipersiapkan tulisan arabnya🙂

Day 9: Kami sholat shubuh berjamaah di Masjid Qishash tempat hukuman qishash dilaksanakan sesuai syariat Islam, dan benar di Saudi ini, walaupun banyak barang diletakkan kurang proper tapi tingkat kriminalitas rendah karena hukum qishash tegak dilaksanakan. Siangnya kami beranjak ke Bandara King Abdul Aziz bertolak menuju Hongkong transit di Dubai

Day 10: jam 5 pagi kami tiba di Hongkong, transit di Hotel regal sampai usai makan siang dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Alhamdulillah pukul 19.30 mendarat dengan selamat di bandara Juanda. tapi, perjalanan kami belum selesai, setelah bersalaman dengan saudara di Surabaya kami melanjutkan perjalanan ke kampung halaman suami di Kediri. Yeayy tiba di sana sudah ditunggu mertua, dan kaka ipasr tercinta juga nasi goreng dan sate ayam asli kediri yang membuat lega tenggororkan kami setelah 10 hari makan non masakan jawa😀

Day 11: sampai dhuhur kami di kediri, kemudian kembali ke Sidoarjo berpamitan dengan saudara di Sidoarjo dan kembali bertolak ke Jakarta,, yeaayy ketemu anak2.. dan bener lho.. pas kami tiba kedua putri putra kesayangan pada bangun dan bermanja2 hingga tengah malam, waaah senangnyaa… Pokoknya bagi saya ini adalah perjalanan kami berdua yang paling bermakna, bisa beribadah di tanah haram, berziarah ke makam rasul, para sahabat dan makam Ibu tercinta, jugaa bulan madu kembali🙂 maklum sudah 4 tahun sejak punya anak, belum pernah pergi berduaan, hehe…

Di tulisan ini, foto2 versi hp dulu ya.. yang bagus-bagus akan dipost terpisah.ImageImage

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s